Cerita amoy lucah sex dewasa

Nafsu seksnya besar dan terus menerus butuh pemuasan. Apalagi ia sangat akrab dengan kedua anakku, Anita dan Marko. Keduanya mengikik kecil merasakan kenakalan tanganku yang telah menyeruak ke balik celana dalam mereka masing-masing dan mengusap-usap pantat mereka. Keduanya segera tenggelam dalam aksinya masing-masing. Rabaan dan elusan disertai jilatan dan kecupan menjalari seluruh tubuhku, mengiringi kedua tanganku yang bebas bergerilya di setiap lekuk tubuh keduanya.

Yang tertinggal hanyalah celana dalamku yang sudah tidak mampu menyembunyikan kemaluanku yang sudah menggunung. Mei merangkulku ketat dan mendaratkan ciumannya bertubi-tubi. Buah dadanya yang montok lembut dan menggairahkan itu menekan dadaku. Setelah meletakkan kue dihiasi lilin bernyala itu di depanku, Mei memintaku berdiri. Bajuku, sepatuku, kaos kaki, celanaku, dan kaos dalamku.Ketika lidahnya semakin lidahnya menyentuh batang kemaluanku aku merasakan sensasi yang hebat dan mulut mungilnya itu dengan segera menelan senjata kebanggaanku itu. Buah dada keduanya menyentuh dadaku dan paha kiri Mei serta paha kanan Yen sama-sama membelit pahaku. Acara mandi erotik ini jelas memancing nafsu birahiku. Pantatnya melengkung ke atas dan buah dadanya yang besar itu berguncang-guncang, seirama dengan gerakan pantatku. Sementara itu Mei semakin menggelinjang dan kemaluannya semakin basah oleb banjir cairan vaginanya. "Aku juga", sahutku merasakan desakan magma spermaku yang akan memancar. Karena ingin mencapai orgasme bersama-sama, aku meningkatkan kecepatan genjotan kemaluanku. Celanaku mulai terasa sesak karena gerakan kemaluanku yang mengeras. Kami beralih ke ruang makan menikmati hidangan yang sudah tersedia. Makam malam terasa sangat indah dalam cahaya lilin. Aku tidak ingin terburu-buru menikmati semua ini walaupun senjata andalanku di bawah sana telah semakin tidak sabar, ingin segera menyatu dengan tubuh-tubuh seksi ini bergiliran. Sambil memegang kue ulang tahun itu, keduanya ternyata hanya mengenakan BH dan celana dalam.

Sekarang kita makan dulu, " Aku melepaskan Yen dari pelukanku walaupun nafsu birahiku mulai meningkat ingin segera dituntaskan. Di tengah ruangan yang romantis dengan hidangan yang enak dalam temaram cahaya lilin, aku duduk menikmati anggur merahku dengan diapit dua wanita cantik bermata sipit nan bahenol dan seksi.

Usianya 29 tahun, tiga tahun lebih muda dari Mei, sepuluh tahun lebih muda dariku. Perbedaan sepuluh tahun sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk urusan ranjang. Dalam temaram lampu yang redup kulit keduanya yang putih nampak sangat indah. Paha-paha padat itu menopang pinggul yang bundar dan digantungi oleh bongkah-bongkan pantat yang padat dan bulat.

Ditinggal suami yang pergi dengan wanita lain katanya. Malam ini kesempatan terbuka lebar bagiku untuk menikmati tubuhnya. Selesai makan malam, aku diminta menanti di ruang tengah. Buah dada keduanya menyembul dari BH kecil yang hanya menutupi sepertiga buah dada itu.

Aku senang kalau diberi kesempatan menjadi ibu bagi Anita dan Marko. Menggumuli tubuhnya yang mulus dengan buah dada yang montok dan pantat yang besar itu menjadi kebanggaan tersendiri. Dan malam ini kamar ini sekali lagi menjadi saksi sejarah baru diriku, bersetubuh sekaligus dengan dua orang wanita Cina yang cantik, bahenol dan seksi. "Untuk si jantan yang berulang tahun", kata Mei, "Semoga tetap kuat perkasa," "Untuk Mei dan Yen", sahutku, "Semoga tetap seksi dan menawan," "Untuk kita bertiga", kata Yen, "Semoga jadi group seks yang kompak," Gila! Aku mau doggy-style, " Tanpa berkata-kata kedua wanita itu saling memandang dan tertawa mengikik. Keduanya saling bertaut lengan, biar bisa saling membagi kenikmatan mungkin. Aku memandang kedua bokong yang besar, putih, mulus dan padat itu. Kakinya terbuka lebar dan dapat kulihat leleran spermaku menetes dari vaginanya. "Kho tak usah takut", sahut Mei, "Kami akan siap untuk Kho Ardy kapan saja," "Untuk lelaki sekuat Kho Ardy, Yen dan Mei akan siap selalu", timpal Yen. Namun kami juga sering berkumpul bertiga untuk saling berbagi kenikmatan.

Namun lingkungan keluargaku masih agak sulit menerima kamu, maaf, yang bukan keturunan Cina. Mungkin karena selalu puas bersetubuh denganku, ia menjanjikan hadiah kejutan untuk ulang tahunku. "Kalau disampaikan sekarang itu bukan kejutan namanya", katanya, "Yakin deh, pasti akan menyenangkan hadiahnya." "Tapi anak-anak pasti merayakannya pada hari itu", kataku. "Namanya, Mei", kataku karena tak ada pilihan lain, "Tapi belum jelas nih. Ada kertas kecil di pintu minta agar pagar dikunci. Mei dan Yen segera melepaskan celana masing-masing. Dalam cahaya lampu yang sengaja diredupkan kedua tubuh bugil itu nampak sangat indah. Kuraih tubuh montok Mei dan buah dadanya segera menjadi bulan-bulanan mulutku. Di antara paha itu nampak gundukan rambut kemaluan masing-masing yang lebat dan hitam. Ketika jari-jariku mulai merayapi bibir kemaluan, keduanya mendesis serentak. Kemaluanku yang sudah sekeras senapan itu kuarahkan ke bokong Mei. Sejak peristiwa hadiah ulang tahun itu, aku jadi selalu punya wanita yang siap melayani nafsuku. Sekali di rumah Mei, larut malam setelah menyetubuhi keduanya secara bergiliran, iseng aku menggoda keduanya.

Cerita dewasa ini hanyalah sebuah cerita yang dapat membuat anda berimajinasi dan berefek pikiran anda untuk berbuat mesum. Ia sepertinya mau bicara tetapi aku tak memberinya kesempatan. Di atas sofa ruang tengah duduk seorang wanita lain. Setelah masing-masing memperoleh ciuman di bibir, mulailah mereka beraksi. Mei mengulum di sebelah kiri dan Yen di sebelah kanan.